“Back To Basic “Meneruskan Cita-cita Luhur Pendiri Dharma Wulan

Dharma Wulan sebagai suatu organisasi kemasyarakatan harus dibenahi atau ditata kembali agar berkembang seiring perubahan zaman yang berlangsung cepat. Mulai dari kesekretariatan yang sebaiknya diserahkankepada professional, AD-ART, sampai keanggotaan dan kepengurusan. Lebih dari itu,generasi yang kini bergabung sebagai anggota Dharma Wulan, harus memahami dengan benar visi-misi pendirian organisasi, sehingga upaya memperjuangkan warga usia lanjut Indonesia agar lebih mandiri, terhormat dan bermakna dapat terus-menerus dilaksanakan.

Itulah, kurang lebih, amanat yang dapat dipetik dari acara Penyegaran Visi-Misi Dharma Wulan pada 3-5 November 2011 lalu, yang diikuti oleh para pengurus sejumlah PDW cabang dari Jakarta (Jakarta Pusat, Jakarta Timur, Jakarta Selatan), Jawa Barat (Bandung, Sukabumi, Bogor, Cirebon, Sentul), dan Jawa Tengah (Semarang), sejumlah Pengurus (Drs Wisnu Lohanatha, Ir Bruriadi Kusuma, Ir Royanto Rizal, Ibu Natalia Hyangana, Ronny Adrianto K) Pembina dan Pengawas Yayasan Dharma Wulan, termasuk mereka yang jarang muncul, seperti Pdl Sularso Sopater, Soetadi Martodihardjo, Ir Hardja S Lukita, dan Ir Budi Dharmawan. Tampak pula Prof Dr Ir AY Rajino MADE dan Prof Dr Ir Go Ban Hong dari PDW Bogor, bp Adhi Tirta Wisata, dan bp Uripto Widjaja (penerima Wulan Award 2011).

Rangkaian acara Penyegaran Visi-Misi Dharma Wulan, yang diadakan di Sentul Leadership Develompment Center (SLDC) itu, dimulai malam hari dengan makan malam yang dilanjutkan “upacara” pembukaan dengan pembawa acara Ibu Radianti Lukman, yang diwamai dengan menyanyikan Hymne Wulan, doa bersama, lalu sambutan Sukotjo Hadi, sebagai Ketua Panitia. Menurut Sukotjo, pengertian dan pemahaman atas nilai-nilai dasar, tujuan, dan visi-misi yang telah dirintis oleh para pendiri Dharma Wulan sangat diperlukan oleh para generasi penerus agar mempunyai pegangan dan landasan yang kuat dalam melangkah ke depan. “Penyegaran visi-misi ini mengajak kita semua untuk berhenti memaki kegelapan dan mulai menyalakan lilin,” katanya. Pada akhir sambutannya, Sukotjo Hadi membacakan sebuah pantun: “pergi ke Buaran di sisi Bekasi, buah durian banyak berduri, melalui penyegaran visi dan misi, kita teruskan cita-cita para pendiri”.

Sambutan Dr Ir Januar Darmawan (mewakili para Pendiri Dharma Wulan) menjadi acara berikutnya, sekaligus membuka resmi kegiatan penyegaran. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan perkenalan dan silaturahmi, pemutaran video Profil Wulan, dan ramah tamah. Berbeda dengan acara hari pertama yang selesai lebih cepat dari yang dijadwalkan, acara pada hari kedua yang diisi dengan dua presentasi, yang ternyata membutuhkan waktu yang panjang. Presentasi pertama, “Membangun Dharma Wulan sebagai Organisasi Kemasyarakatan yang Besar, Kokoh dan Mandiri” dibawakan oleh Drs Benny Tedjasendjaja, dipandu oleh Ir H Subagyo H MSc PhD. Sedangkan presentasi kedua “Kesiapan Organisasi Dharma Wulan untuk Meneruskan Tujuan, Cita-cita Perjuangan, dan Aplikasi Visi-Misi Dharma Wulan yang telah Dirintis oleh Pendiri Dharma Wulan” dibawakan oleh Drs Titus K Kurniadi, juga dipandu oleh H Subagyo didampingi Ir Ruslim Hertanto.

Benedictus S Tedjasendjaja mengawali presentasinya dengan memaparkan perubahan yang terjadi dengan sangat cepat, baik di bidang demografi dan ekonomi, politik, sosial budaya, teknologi, maupun lingkungan. Setelah itu, dia masuk ke dalam pembahasan tentang pengembangan organisasi, dengan menunjukkan jumlah penduduk berusia 50 tahun ke atas di Indonesia saat ini, status sosial ekonominya, kondisi keanggotaan Dharma Wulan dan pertanyaan bagaimana ke depannya.

Dalam hal keanggotaan, Benny menekankan perlunya pemahaman visi-misi Dharma Wulan, bagi anggota, pengurus dan bahkan calon anggota. Data keanggotaan dinilainya harus dibenahi, perlunya sekretariat tetap di Jakarta yang dijalankan oleh para professional, serta pentingnya iuran anggota. Lebih dari itu, dia juga membahas soal organisasi dan kepengurusan, badan pengurus, persyaratan untuk kctua umum dan ketua distrik, konggres, mosi, hak suara, panitia dan pengawas kongres. Seluruh uraiannya adalah berdasarkan pada pengalamannya yang luas mengenai pengembangan organisasi kemasyarakatan.

Usai presentasi, acara dilanjutkan dengan tanya jawab. Pak Benny yang acap memakai Lions Club sebagai contoh, mendapat sejumlah pertanyaan atau tanggapan. Namun, dalam diskusi dijelaskan, antara lain oleh ibu Januar, bahwa sesungguhnya acuan Dharma Wulan adalah AARP (American Association Retired Person), suatu organisasi warga usia lanjut di Amerika Serikat yang anggotanya mencapai puluhan juta orang. Ada jugayang bertanya mengenai perwakilan atau hak suara dalam kongres (di Dharma Wulan: Musyawarah Nasional), yang buntutnya menemukan fakta bahwa terjadi kesalahan waktu pembuatan AD-ART, yang dengan sendirinya kelak perlu dibahas dalam Musyawarah Nasional.

Sedangkan pada presentasi kedua, Drs Titus K. Kurniadi mengawalinya dengan menunjukkan pertumbuhan penduduk dunia, yang pada 31 Oktober lalu berjumlah 7 milyar, termasuk penduduk yang berusia di atas 60 tahun ke atas, yang akan terus meningkal dari tahun ke tahun. Kemudian dia membahas hal-hal yang sifatnya nasional berkaitan dengan warga usia lanjut, tentang peran negara dalam kesejahteraan lanjut usia, sistem jaminan sosial nasional, dan peran kementerian sosial RI.

Setelah sidang ditunda sekitar dua jam untuk istirahat, makan siang dan shalat Jumat, selanjutnya Pak Titus membeberkan secara historis berdirinya Dharma Wulan, di mana dia terlibat langsung sejak munculnya ide atau gagasan perlunya pendirian organisasi, pemilihan nama untuk orang lanjut usia, upaya pencarian badan hukum, hingga terbentuk dan berdiri Yayasan Dharma Wulan yang mendirikan Paguyuban Dharma Wulan, diperkenalkan kepada masyarakat luas, kegiatan-kegiatan awal dan pembentukan cabang-cabang PDW, dan seterusnya. Lebih dari itu, dijelaskan pula tentang Lembaga Lanjut Usia Indonesia (LLI), yang kini masih di bawah pimpinannya.

Sebelum mengakhiri presentasinya dengan memaparkan tolok ukur keberhasilan perjuangan organisasi, dia mengajak melakukan hal-hal berikut: Mari menjadi lebih sehat, menjadi lebih aktif, menjadi lebih produktif, menjadi lebih sejahtera, menjadi lebih mandiri, menjadikan keluarga yang lebih harmonis, menjadi lebih terhormat, dan menjadi lebih bermakna.

Presentasi yang kedua ini memang memerlukan waktu yang panjang, karena persoalan yang diungkapkan sangat penting, dan luas. Namun para peserta yang mengikuti presentasi ternyata tidak ada yang mengantuk, bahkan tampak lebih bersemangat, karena cara penyajian yang menarik, tidak membosankan, dan sangat gamblang.

Usai presentasi kedua ini juga diadakan tanya jawab. Tetapi pertanyaan-pertanyaan yang muncul lebih berupa persoalan yang selama ini ada di Dharma Wulan, seperti keanggotaan seumur hidup dan sasaran dalam merekrut anggota baru. Pentingnya iuran ditekankan dalam session ini, karena organisasi juga harus mandiri dengan biaya dari iuran anggota dan usaha-usaha pengumpulan dana yang dilakukan organisasi. Disinggung pula bahwa pernah ada kebijaksanaan untuk menerima anggota yang bebas dari iuran keanggotaan, yang jumlahnya 10% dari seluruh anggota yang membayar iuran, dan mereka itu diharapkan mampu memberikan kontribusi yang berarti untuk Dharma Wulan.

Setelah istirahat sekitar 30 menit, acara dilanjutkan dengan diskusi yang mengambil dua topik. Pertama, cita-cita pendiri dan pelaksanaan visi-misi Dharma Wulan. Kedua, Masa depan Dharma Wulan. Diskusi ini dipimpin oleh tim moderator yang terdiri dari Ir Ruslim Hertanto, Ir Lanny Socwandi MBA, dan Ir H Subagyo H MSe, PhD,. Pada kesempatan ini masing-masing cabang yang hadir juga diminta untuk berbicara atau memberikan tanggapan.Pada akhirnya, setelah para peserta diberi kesempatan beristirahat dan makan malam, Panitia Penyegaran Visi-Misi Dharma Wulan membuat kesimpulan sebagai berikut:

  1. Kegiatan Penyegaran Visi-Misi Dharma Wulan adalah langkah untuk menyegarkan kembali nilai dasar, tujuan dan visi-misi yang telah dirintis oleh para pendiri. Langkah back to basic ini dipandang perlu agar Penerus Dharma Wulan memiliki pegangan dan landasan yang kokoh terhadap setiap langkah dalam perjalanan Dharma Wulan sehingga dapat mengantisipasi dinamika perkembangan organisasi secara bijaksana dengan selalu berusaha mengedepankan semangat kebersamaan.
  2. Keseluruhan materi penyegaran yang telah dirancang dengan cermat, dimulai dari silaturahmi dengan para Pendiri, ceramah dan diskusi intensif, dinilai telah berhasil memberikan pembekalan secara luas dan menyeluruh tentang nilai dasar dan hakekat jatidiri Dharma Wulan. Di samping itu sekaligus berhasil menyampaikan gambaran dan analisis tentang berbagai permasalahan masa depan yang dihadapi, termasuk upaya konkret dalam rangka menjaga dan melanjutkaneksistensi Dharma Wulan.
  3. Dalam kegiatan penyegaran ini terbukti bahwa Penerus Dharma Wulan memiliki wawasan dan komitmen yang tinggi terhadap pelaksanaan tugas, serta kemampuan dan keberanian untuk menganalisis masalah substansial Dharma Wulan secara professional. Ini semua adalah suatu hal yang membanggakan dan pada kesempatan lain, forum seperti ini perlu diaktifkan untuk membahas berbagai ketentuan dasar sebagai landasan organisasi Dhanna Wulan.
  4. Penyegaran visi-misi ini pada hakekatnya merupakan sarana bagi Dharma Wulan untuk menentukan posisi yang tepat, arah yang benar dan bentuk organisasi yang sesuai dalam rangka merealisasikan cita-cita besar Dharma Wulan. Hal ini hanya dapat dicapai melalui kerja keras, terbentuknya organisasi modern yang kuat dan dikelola secara professional, serta didukung semangat dan dedikasi tinggi dari seluruh anggota dan pengurus Dharma Wulan.
  5. Penerus Dharma Wulan telah berketetapan hati dan siap untuk melanjutkan estafet pengabdian Dhanna Wulan dalam rangka melaksanakan tujuan dan cita-cita luhur para pendiri, yaitu pcmbinaan warga usia lanjut di Indonesia yang lebih mandiri, terhormat dan bermakna.

Acara akhirnya ditutup secara resmi oleh Dr Januar Darmawan, dilanjutkan dengan penyerahan piagam kepada seluruh peserta penyegaran, dan foto-foto bersama.

Malam itu, tanggal 4 November 2011, sebenarnya hendak diakhiri dengan bergembira bersama, berkaraoke dan berdansa. Namun, agaknya para peserta banyak yang merasa capek, dan tampak kurang bersemangat. Sepertinya, acara presentasi dan diskusi lebih menggembirakan meskipun sangat menguras tenaga dan perhatian.

Akhirnya, menyimak kegiatan Penyegaran Visi-Misi Dharma Wulan, sesungguhnya sangat dirasakan perlunya mengadakan acara serupa dalam kurun waktu tertentu, secara periodik. Barangkali di dalam Musyawarah Nasional Paguyuban Dharma Wulan, acara tersebut mestinya mendapat tempat dan waktu yang memadai. Sebab, bagaimanapun kacang tidak boleh lupa pada kulitnya, sejarah masa lalu harus selalu diingat karena dari sanalah semuanya bermula. Sejarah masa lalu juga menyimpan cita-cita, sebagaimana proklamasi kemerdekaan, dan perjalanan generasi yang muda seharusnya terus memperjuangkan agar cita-cita itu dapat dicapai.* Karena cita-cita itu masih tetap relevan untuk masa kini dan masa depan

News Reporter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *