Serunya Mengenang Tempo Doeloe

 

PENYELENGGARAAN acara penarikan Arisan Sosial Dharma Wulan memang tidak pernah sepi dari kehadiran para anggotanya. Terbukti dari terisinya seluruh kursi yang disediakan panitia pada penarikan arisan periode 13-14-15, yang berlangsung pada Sabtu, 12 April 2014 di Griya Dharma Wulan (GDW) Sentul. Meski MC Bapak Bob Hage baru mengawali acara pukul 10.00 WIB, sebagian besar member dari PDW di Jakarta, Bogor, dan Sukabumi sudah hadir, satu jam sebelum waktunya.

Boleh jadi antusiasme dan semangat para anggota hadir pada waktunya, selain karena ingin silaturahmi pada pertemuan ini digelar 3 bulan sekali, juga selaras dengan tema  acaranya, yakni Mewarisi Semangat RA. Kartini. Menurut Wakil Ketua Panitia Bapak Ruslim Hertanto, tema tersebut sengaja diusung untuk menyambut kelahiran pahlawan nasional itu tanggal 21 April. “Dengan tema ini, kami ingin mengingatkan para anggota akan perjuangan dan semangat emansipasi wanita yang diperjuangkan RA Kartini,” kata Bapak Ruslim.

Wujud semangat RA Kartini tadi digambarkan anggota Dharma Wulan dengan busana tempo doeloe era pahlawan kelahiran Jepara itu. Bahkan anggota PDW Jakarta Selatan yang ditunjuk sebagai pengagas acara dan host arisan kali ini tampil cantik bersanggul dan seragam dalam balutan kebaya putih. Sejumlah bapak-bapak dari PDW lain, tak mau kalah. Mereka hadir dengan baju adat Sulawesi dan Jawa plus blangkon. Seru!

Acara dibuka sambutan dari Ketua Arisan Bapak Hardja S. Lukita, kemudian ceramah kesehatan bertajuk Knowing Your Stomach: Important Things to Remember  yang dipaparkan Dr. Jaideepraj Rao dari Tan Tock Seng Hospital. Paparan Dr Rao dalam bahasa Inggris, dipandu oleh Bapak Chairis Yoga, Direktur PT Medilink Adi Prima.

Usai ceramah, kelompok paduan suara ibu-ibu PDW Jakarta Selatan pimpinan Ibu Merry Y, tampil perdana dengan menyanyikan sejumlah lagu. Pada hadirin pun diajak bersama-sama menyanyikan reff lagu RA Kartini. Selanjutnya Ibu Yanti Hartono membaca puisi berjudul Kartini, kemudian diteruskan oleh Bapak Bambang Wahyono, yang bernyanyi solo. Meski udara di luar aula cukup menyengat, para hadirin terlihat antusias menonton lima ibu-ibu dari PDW Jakarta Selatan pimpinan Ibu Susi Siahaan, yang atraktif membawakan Tari La Doge dari Tapanuli. Suasana makin meriah saat beberapa tamu termasuk Dr Rao diajak menari kemudian diberi hadiah ulos.

Tepuk tangan lagi terdengar sewaktu Ibu Nuke memandu parade busana yang inti acaranya yakni, menggali busana tempo dulu baik busana Barat maupun busana Timur. Di depan hadirin, ibu-ibu PDW Jakarta Selatan, berlenggak-lenggok memeragakan pakaian tradisional Jawa, pakaian ala nona Belanda, dan pakaian pesta jaman baheula. Dari seluruh peserta parade yang notabene kaum ibu, terselip seorang bapak yang tampil percaya diri berpakaian adat Sulawesi.

Terakhir, tampil Ibu Didiek S dengan baju dan topi berbahan kertas yang dipaparkan Ibu Nuke, menggambarkan tidak semua orang bisa memakai pakaian yang layak pada era Kartini. “Saking sulitnya situasi sehingga hanya menggunakan baju berbahan bagor (goni),” tutur Ibu Nuke.

Puncak acara, panitia mengumumkan pemenang Putri Putra Berbusana Terbaik dan Terunik yang terpilih yaitu Ibu Anna Manafe, Ibu Ary Prihandono, Ibu Merry Y, Bapak Hastono, dan Ibu Didiek S. Tidak lupa juga diumumkan tiga pemenang arisan periode 13-14-15, yaitu Ibu Ellen dari Bogor, Ibu Aryati Setiadi/Yona dari Jakarta, dan Bapak Gatot Sutanto dari Bogor.

News Reporter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *